Lima Menit

Saturday, September 26, 2009 | |

Kamu bilang tunggu aku di Stasiun Tugu pukul dua siang. Katamu juga aku harus tepat waktu, karena kereta transit. Aku datang, pukul dua lebih. Iya, aku panik saat itu. Apa kah lepas pertemuan kita?

Senang bukan kepalang, keretamu mogok sebelum Balapan. Setidaknya masih ada waktu untukku menata kembali senyumku yang berantakkan. Keringat keburu mengucur deras. Aku lupa bawa sapu tangan. Ku seka keringat dengan lengan baju. Walaupun memang aku sudah pecah belah menjadi bagian-bagian yang sulit di kremasi. Aku tidak ingin kamu melihatku kucel seperti ini.

Cinta adalah media promosi hati, menawarkan kehebatan-kehebatan yang tersimpan jauh di dalamnya. Ketika hati bersama cinta melangit ke pura-pura asmara. Muncul pesimis dan optimis ditawarkan sebagai media penjawab hancur atau kokohnya pura-pura asmara.

Tapi katamu ada harapan. Aku nurut saja. Aku tidak ada pilihan.

Adalah aku ikan sepat yang jatuh dari toples, ke lantai marmer Itali, bernafas dengan sisa beceknya.Adalah kamu air muncrat dari toples ke lantai marmer, yang memilih merembes ke pori-porinya .

Buat apa memilih selagi diberi harapan, pikirku. Saat itu. Apa boleh buat, untuk sebuah penyederhanaan harapan_ entahlah kalo jodoh takkan kemana_itu, legawa ku tunggu keretamu lepas Balapan.

Satu jam lagi, perkiraanku, kereta mu bakalan muncul dari timur. Tapi, sekali lagi kamu kabari kereta mogok di Klaten.

Pukul dua semakin habis dimakan perjalanan waktu, mendekati reinkarnasi pukul tiga, sore menjelang petang. Tetap aku tunggu kamu. Keretamu datang. Aku mendekati jalur 3. Jalur yang akan membawamu lenyap ke barat. Ada degup gugup ada juga degup takut dan mampir tanpa permisi degup rindu. Mana yang aku pilih untuk menghadapi senyummu.

Gerbong 2, berhenti jauh ke Barat, aku susul dengan langkah kecil. Ku hitung tidak lebih satu menit. Masih empat menit lebih untuk menikmati degupan-degupan itu. Wajahmu pun muncul dari balik tepian pintu gerbong. Maaf aku biarkan kamu celingukan. Sembari melihat jam tanganmu.

Matamu panik berkejaran dengan waktu. Waktu berjalan juga, apakah kita berpikir sama. Rindu yang tak habis dalam tiga menit. Dan sekali lagi resah juga bisa kamu miliki. Aku suka. Andaikan kamu saat itu ada dibalik waktu sebuah film roman kondang, mungkin akan aku perlambat durasinya. Biar bisa berlama-lama aku menikahi pertemuan ini. Dan menggumam. Kamu cantik. Aku rindu. Kenapa tawamu sangat ku miliki. Tercenung menatapmu.

Kamu melangkah menghampiri. Gempal tubuhmu meyakinkanku perempuan ini yang aku pilih. Putih kulitmu menerjang lamunanku akan sebuah tarian bercinta beralas rumput liar. Matamu berkaca-kaca, aku sadar intan ini begitu sempurna. Hanya yang layaklah yang bisa menciuminya. Dan aku? Aku cukup layak untuk bergumul dengan imaji yang kamu terbangkan dengan pesawat-pesawat kertas yang kamu lipat mesra.

Jemarimu.. halus , terawat, menawan, dan berapa pujian yang harus aku lepas untuk sekedar memotongnya dan ku bawa pulang? Jemari itu melambai benarkah memilihku? Kamu jabat tanganku. Kamu tanyakan kabarku. Kamu tanyakan hidupku, aktivitasku, dan segala pertanyaan lazimnya kawan bersua kawan lama.

Tidak aku tidak butuh itu. Ku biarkan mulutku menjawab. Ku tunggu saat kamu diam. Dan mempersilahkan hatiku yang bertanya. Ingin ku ingatkan basa-basi ini membuang-buang waktu.

Kenapa tidak kamu kecup saja pipiku? Kenapa tidak kamu beberkan kerinduanmu, aku dan nasib hati ini? Kenapa ucapan salam dari dia yang mengakhir basa-basimu?
Entah datang dari mana lokomotif keparat itu. Menerjangku sampai aku terpental ke bagian-bagian yang tidak nyaman. Remuk redam.

“maaf aku mengenalmu melalui senyum yang kamu tawarkan, dan cinta adalah jabatan tangan yang ku tawarkan, jadi bagaimana aku bisa menganggapmu teman, jika masih ada senyum-senyum itu, jangan memberiku dongeng jika memang kamu memilih tidur”.

Waktu habis. Ku jabat tanganmu lagi. Ku janjikan suatu saat ada waktu lima menit lagi untuk saling menghancurkan.

Jogja, Februari pertengahan waktu tertipu 2005

8 comments:

Rita Susanti said...

Jadi, ceritanya sudah berhasil bertemu kan ini??
ini bukan sebuah mimpi atau khayalan belaka kan??
Hihihi, aku juga sedang berharap bisa bertemu dengan seseorang:)

icha said...

pertemuan singkat, membawa amanat yang terus terpegang dan harus sampai pada alamat...kemana? kau tentukan sendiri...

pertemuan jenis ini indah, karena hanya tawa yang terkenang....

aci said...

remuk redam....that's what I feel now :( ehehehe...baydeway, 5 menit sama kayak judul subjek email di tulisan blog akoh

kopisusu said...

.. setidaknya urusan nasib kadang tidak lebih ribet dari urusan cinta, haha.

Salam dini hari om ;)

Nb : saya juga pernah berkali kali mengutuk bulan Februari

coffeeoriental said...

quote terakhirnya itu loh..

amponnn sang pujangga bener nih yg pny blog :P

♥ria♥ said...

T_T ak juga slalu menanti pertemuan dengan si dia
slalu menunggu >,<

elia bintang. said...

"jangan memberiku dongeng jika kamu memilih tidur." asiiiikkk.. boleh ditiru nih kata2nya buat deketin cewe. huaha

Bisnis Pulsa Eranet said...

moco judule tok
tulisanmu kedawan (Lmao)

Post a Comment