Dulkemon dan Dia

Monday, October 5, 2009 | |

Dan bubar. Begitu saja, tidak ada cekcok tidak ada debat terbuka tidak ada embel-embel konsensus. Katabelece tidak berlaku, surat menyurat di tiadakan. Keputusan sudah jatuh di kata final. Bubar tanpa adanya sirene peringatan. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan ke-alphaan tidak ada detik untuk menata kesalahan. Benar adanya Dulkemon dan Mie Goreng kisah mereka harus mendarat darurat.

Diselisih tahun yag lalu, ketika Dulkemon menyatakan dirinya adalah benda paling kesepian, disaat itulah datang tanpa diduga Mie Goreng. Dengan baunya yang menawan. Keempukkan mienya yang direbus dengan cinta dan panas yang pas. Juga racikan penyajian yang begitu menawan hati. Membuat Doraemon kelimpungan. Tidak ada pilihan lain, Dulkemon memutuskan untuk mengenal lebih jauh Mie Goreng itu.

Hai..., Sembari mengemas wajahnya yang tersipu malu-malu badak air asin, Dulkemon melempar kertas ajaibnya ke angkasa. Tidak begitu lama, kertas itu tiba dan...satu tulisan ditorehkan dalam kertas ajaib milik Dulkemon, Hai juga... balasan renyah dari Mie Goreng. Apa kabar... Dulkemon dengan semangat melayangkan pertanyaan keduanya. Aku baik... kamu? dibalas dengan halus.

Dan seterusnya sampai pada satu tulisan Dulkemon... Senangnya bisa gila-gilaan dengan kamu... Aku juga...balas Mie Goreng kepada Dulkemon, hangat.

Akhirnya dengan kekuatan balon, Dulkemon pun memberanikan diri mengangkat gagang telpon dan...Dan di telpon pertama, Dulkemon benar-benar pingsan dari ujung jempol merambat ke bulu hidungnya. Walhasil, hari berlalu dengan keresahan yang indah tiada tara.

Tidur tak nyaman, makan tak enak, ikan asin tak selera, susu murni bikin muntah, bahkan nungging dibawah tiang listrikpun serasa tak asik. Kolong meja se-akan begitu cerah, tidak gelap, penuh dengan lampion berbentuk alien dari Depok.

Setiap kali detik berhenti selalu yang terbayang adalah Mie Goreng. Ketika pup selalu yang terngiang merdu suara mie goreng. Dan ketika ekor dijilati si pleki selalu kenyal dan lenturnya gelak tawa Mie Goreng yang muncul.

Dulkemon menikmati itu semua. Pelangi dan awan yang bergerombol sepaket dengan burung blekok, seperti menari menyanyikan lagu-lagu kerinduan Obie Mesah. Senyum lebar dan mata yang berbinar terlukis syahdu di wajah Dulkemon. Tak ada yang mampu membasmi keceriaan Dulkemon, bahkan iblis yang terjungkal jatuh dari neraka pun tak di gubris oleh Dulkemon. Yang ada hanyalah Mie Goreng dan Mie Goreng. Namun...

Pada suatu hari...

Debu jalanan terbang tersapu geliat angin laut. Membawa plastik terbang tinggi dan jatuh di kening pak polisi. Gelisah dan tawa resah Pohon matoa oleh cicak pohon yang bersenggama bebas. Burung blekok pulang dari dinasnya, dengan sebotol anggur cap separuh baya. Ngomel gak karuan tentang kejamnya lautan yang tak lagi menyisakan ikan melainkan kondom kelas 3oooan.

Sore itu belum terperosok ke waktu malam. Semua mahkluk dan benda saling mengais cerita-cerita harapan dan esensi balas dendam. Untuk mereka bawa serta dalam lamunan tengah malam. Dan tak jauh dari hiruk pikuk bumi yang menawan. Dibawah remang lampu jalan. Dulkemon terduduk lesu. Telpon genggam masih erat dalam dekapan jemarinya yang kuat. Lirih terdengar suara dari telpon genggam, memanggil nama Dulkemon.

Raut muka kusam. Mata terpaku tajam di seonggok sampah. Tubuh tak bergeming. Bibir tergigit dan gemeretak gigi menggetarkan pipinya yang gembul. TTIIIIDDDDDAAAAKKKKK!!!

Mie Goreng pergi ke mulut tiram laut. Meninggalkan Dulkemon dengan keputusasaan yang tak berujung penyelesaian. Kejelasan akan nasib dan ceritanya yang disimpan untuk bisa menikmati bercengkrama dengan Mie Goreng lebih lama, harus lenyap seiring penjelasan Dulkemon yang terpendam tak terungkap. Terlalu cepat kenikmatan itu hilang. kepulan asap senyum Mie Goreng. Kekenyalan renyah canda Mie Goreng. Dan Aduhainya lendir bumbu curhat Mie Goreng. Pergi moksa begitu saja.

Mungkin yang tertinggal hanyalah kenangan. Tak ada lagi lantunan lagu romantik era 80an, yang merdu mengiringi gelak tawa. Tak ada lagi bising sopran seekor tokek yang mendadak cemburu. Dan tak ada lagi mata-mata juling dan mulut penuh gosip jangkrik-jangkrik semak belukar. Itu semua tinggal kenangan yang akan ditulis serta merta dalam catatan harian belanja sakit hati. Huff! Dulkemon menghela nafas panjang.

Mie Goreng berlalu dimulut tiram laut. Kesepian kembali merajam hari-hari Dulkemon. Ikan asin tak lagi segurih mutasi singkong. Tikus darat tak lagi dekil sedekil tai kuda delman ujung jalan. Dan kumis tak lagi rapi, serapi rambut Marlon Brando. Semua seakan kembali ke waktu-waktu usang. Sepi, sendiri tanpa kelakar dan hahahihi yang biasa Dulkemon dan Mie Goreng sruupputtt setiap malam diseperempat bulan celingukan.

WC kumuh... Kotak kecil bertuliskan aturan pipis seribuan. Terdengar desah gemeruh didalam wc itu. Dulkemon sedang bercinta dengan deterjen.

8 comments:

IMAM MAKSUM said...

bingung aq,kata2 apa yg harus keluar dlm hati ini,,,,,,,
sunguh luar biasanya hidup ini....

bluethunderheart said...

keren sangatlah bang postingannya
salam hangat selalu

xitalho said...

Si Dulkemon yang malang melintang.....

elia bintang. said...

gw suka mie goreng kok.. halah ga nyambung. sbnrnya gw kurang ngerti sih ttg cerita ini :D

kezedot said...

blue nantikan post abang yang baru yah...........semangat semangat
salam hangat selalu

agungfirmansyah said...

Cari ketoprak aja buat gantiin Mie Goreng.
Jago nulis cerpen nih.

AISHALIFE-LINE said...

yah...begitulah...pertemuan dan perpisahan selalu datang bergantian.

Lia_Lovaa said...

keren ne ceritanya..jadi ikut terharu juga..

Post a Comment