Showing posts with label Semak. Show all posts
Showing posts with label Semak. Show all posts

Dulkemon dan Dia

Monday, October 5, 2009 | |

Dan bubar. Begitu saja, tidak ada cekcok tidak ada debat terbuka tidak ada embel-embel konsensus. Katabelece tidak berlaku, surat menyurat di tiadakan. Keputusan sudah jatuh di kata final. Bubar tanpa adanya sirene peringatan. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan ke-alphaan tidak ada detik untuk menata kesalahan. Benar adanya Dulkemon dan Mie Goreng kisah mereka harus mendarat darurat.

Diselisih tahun yag lalu, ketika Dulkemon menyatakan dirinya adalah benda paling kesepian, disaat itulah datang tanpa diduga Mie Goreng. Dengan baunya yang menawan. Keempukkan mienya yang direbus dengan cinta dan panas yang pas. Juga racikan penyajian yang begitu menawan hati. Membuat Doraemon kelimpungan. Tidak ada pilihan lain, Dulkemon memutuskan untuk mengenal lebih jauh Mie Goreng itu.

Lalu...

Lima Menit

Saturday, September 26, 2009 | |

Kamu bilang tunggu aku di Stasiun Tugu pukul dua siang. Katamu juga aku harus tepat waktu, karena kereta transit. Aku datang, pukul dua lebih. Iya, aku panik saat itu. Apa kah lepas pertemuan kita?

Senang bukan kepalang, keretamu mogok sebelum Balapan. Setidaknya masih ada waktu untukku menata kembali senyumku yang berantakkan. Keringat keburu mengucur deras. Aku lupa bawa sapu tangan. Ku seka keringat dengan lengan baju. Walaupun memang aku sudah pecah belah menjadi bagian-bagian yang sulit di kremasi. Aku tidak ingin kamu melihatku kucel seperti ini.

Cinta adalah media promosi hati, menawarkan kehebatan-kehebatan yang tersimpan jauh di dalamnya. Ketika hati bersama cinta melangit ke pura-pura asmara. Muncul pesimis dan optimis ditawarkan sebagai media penjawab hancur atau kokohnya pura-pura asmara.

Tapi katamu ada harapan. Aku nurut saja. Aku tidak ada pilihan.

Adalah aku ikan sepat yang jatuh dari toples, ke lantai marmer Itali, bernafas dengan sisa beceknya.Adalah kamu air muncrat dari toples ke lantai marmer, yang memilih merembes ke pori-porinya .

Buat apa memilih selagi diberi harapan, pikirku. Saat itu. Apa boleh buat, untuk sebuah penyederhanaan harapan_ entahlah kalo jodoh takkan kemana_itu, legawa ku tunggu keretamu lepas Balapan.

Satu jam lagi, perkiraanku, kereta mu bakalan muncul dari timur. Tapi, sekali lagi kamu kabari kereta mogok di Klaten.

Pukul dua semakin habis dimakan perjalanan waktu, mendekati reinkarnasi pukul tiga, sore menjelang petang. Tetap aku tunggu kamu. Keretamu datang. Aku mendekati jalur 3. Jalur yang akan membawamu lenyap ke barat. Ada degup gugup ada juga degup takut dan mampir tanpa permisi degup rindu. Mana yang aku pilih untuk menghadapi senyummu.

Gerbong 2, berhenti jauh ke Barat, aku susul dengan langkah kecil. Ku hitung tidak lebih satu menit. Masih empat menit lebih untuk menikmati degupan-degupan itu. Wajahmu pun muncul dari balik tepian pintu gerbong. Maaf aku biarkan kamu celingukan. Sembari melihat jam tanganmu.

Matamu panik berkejaran dengan waktu. Waktu berjalan juga, apakah kita berpikir sama. Rindu yang tak habis dalam tiga menit. Dan sekali lagi resah juga bisa kamu miliki. Aku suka. Andaikan kamu saat itu ada dibalik waktu sebuah film roman kondang, mungkin akan aku perlambat durasinya. Biar bisa berlama-lama aku menikahi pertemuan ini. Dan menggumam. Kamu cantik. Aku rindu. Kenapa tawamu sangat ku miliki. Tercenung menatapmu.

Kamu melangkah menghampiri. Gempal tubuhmu meyakinkanku perempuan ini yang aku pilih. Putih kulitmu menerjang lamunanku akan sebuah tarian bercinta beralas rumput liar. Matamu berkaca-kaca, aku sadar intan ini begitu sempurna. Hanya yang layaklah yang bisa menciuminya. Dan aku? Aku cukup layak untuk bergumul dengan imaji yang kamu terbangkan dengan pesawat-pesawat kertas yang kamu lipat mesra.

Jemarimu.. halus , terawat, menawan, dan berapa pujian yang harus aku lepas untuk sekedar memotongnya dan ku bawa pulang? Jemari itu melambai benarkah memilihku? Kamu jabat tanganku. Kamu tanyakan kabarku. Kamu tanyakan hidupku, aktivitasku, dan segala pertanyaan lazimnya kawan bersua kawan lama.

Tidak aku tidak butuh itu. Ku biarkan mulutku menjawab. Ku tunggu saat kamu diam. Dan mempersilahkan hatiku yang bertanya. Ingin ku ingatkan basa-basi ini membuang-buang waktu.

Kenapa tidak kamu kecup saja pipiku? Kenapa tidak kamu beberkan kerinduanmu, aku dan nasib hati ini? Kenapa ucapan salam dari dia yang mengakhir basa-basimu?
Entah datang dari mana lokomotif keparat itu. Menerjangku sampai aku terpental ke bagian-bagian yang tidak nyaman. Remuk redam.

“maaf aku mengenalmu melalui senyum yang kamu tawarkan, dan cinta adalah jabatan tangan yang ku tawarkan, jadi bagaimana aku bisa menganggapmu teman, jika masih ada senyum-senyum itu, jangan memberiku dongeng jika memang kamu memilih tidur”.

Waktu habis. Ku jabat tanganmu lagi. Ku janjikan suatu saat ada waktu lima menit lagi untuk saling menghancurkan.

Jogja, Februari pertengahan waktu tertipu 2005

Lalu...

Cermin

Friday, September 25, 2009 | |

Bulan bunuh diri dibalik teralis awan. Malam tak urung terlelap. Kian mempesona bersenggama dengan desir angin barat. Mahkluk penghuni malam tergopoh-gopoh berlari, ketika derap kaki membuyarkan kasak-kusuk mereka tentang gelap dan kedahsyatan-kedahsyatannya.

Rintik hujan tak menghalangi derap langkah, tergesa-gesa menembus semak belukar dan pekatnya malam. Menyibak kebun dan pematang sawah. Menapaki jalan setapak. Dan jembatan kecil penghubung dua kebun ketela. Berpayung daun pisang dan langkah dibimbing oleh cahaya senter kecil.
Derap langkah itu kian dipercepat. Tak kala petir melahap sekejap malam. Menyilaukan awan. Dan suaranya memekik membelah kesunyian.

"Buruan gan..."

Rumah loji tua. Dibeberapa sudut, temboknya seakan rapuh termakan waktu. Jendela-jendela besar bukti kemegahan dimasalalu, hanya tinggal mitos. Bercerita sendiri seiring perjalan malam yang silih berganti.

Dari kejauhan derap kaki itu kian mendekat. Sesekali berdecak kretak suara ranting kering terinjak.

"Sssstttt! Pelan-pelan bodoh!"

Tikus wirok berlari membelah ruang tengah. Ubin abu-abu tak nampak lagi kilaunya setelah ditinggal mati oleh pemiliknya 58 tahun yang lalu. Cermin tua nampak melamun memantulkan bayangan jendela besar. Bebauan malam teselip diantara lubang-lubangnya. Laba-laba bergeleyut disinggasananya. Menggulung rapi nyamuk yang terjerat jaring-jaring.

"Kamu simpan dimana dia?"
"Dikamar belakang gan.."
"Guoblok! Kenapa harus kamar belakang!!"
"Cari aman gan.."
"Bweh!"

Kemudian kedua orang itu melangkah meninggalkan ruang tengah. Menuju kamar belakang. Senter membantu mereka menemukan lorong penghubung ruang tengah dengan halaman belakang. Lorong itu gelap, dari tempat kedua orang itu berdiri, terlihat dikejauhan temmaram malam menerangi halaman belakang. Dapur kemudian kamar belakang.

"Aduh! Kenapa berhenti?"
"Gan kok perasaan saya tidak enak ya gan ya.."
"Kenapa?! Tumben kamu berperasaan, sekalinya berperasaan malah gak enak!"
"Beneran gan saya tidak bohong!"
"Iya tapi gak usah pake pegang-pegang lenganku! Ihhh lepasin gak tanganmu! Buset! Lepasin gak!!!"
"..."
"LEPASIN!!!"

Samar-samar wajah pintu-pintu kamar terkuak oleh cahaya senter. Pintu-pintu itu masih berada ditempatnya. Menutup rapat rahasia-rahasia yang tersimpan di masing-masing kamar. KUsen dan pintu terbuat dari kayu jati. Kokoh, tinggi meranggai langit-langit.

Langit-langit ruangan tak rapat lagi. Lobang disana sini. Gelap tak menyisakan cahaya untuk menembus kepekatannya. Kini semua terpaku diam tak berbisik. Sesekali decat decit engsel tua jendela kamar menderit oleh semilir angin dari halaman belakang. Berbaur lirih dengan suara
Srekkk.. srekkk....

Tiba-tiba Jangkrik terdiam. Raungannya seakan ditelan pengabnya udara ruangan itu. Dengung sayap-sayap nyamukpun seakan melambat. Pelan kemudian hilang dibalik kusen jendela tua. Cericit tikus yang bergedubrak diatas atap, tak dengar lagi. Semua diam. Hanya desir angin dari halaman belakang. Derit jendela kamar tua. Derik gesekan daun dikebon sebelah. Dan suara lirih itu...

srekkk... srekkkk...

"Gan.. beneran perasaan saya gak enak..."
"Kemariin senternya!"
"Gan.. serius gan... ini.. ini..."
"Ini itu ini itu! Mana senternya! Aduh!"
"Aduh! Gan biar saya saja yang pegang..."
"Udah aku aja! Udah deh gak usah kamu umpetin! Sini! Siiniii.."
"Gak gan biar saya yang peg..."
"Sini! Nah hehehehehehe!"
"..."
"Heh? kenapa kamu?"
"Ini.. gak bener gan..."
"Apanya? Duh! Ni senter kenapa lagi! Tadi gak kamu beliin batere baru ya?"
"GANN!!"
"APA!! Duh! kok meredup gini sih!" PLOK! PLOK!
"Gan..."
"Nahhhh... Nyala deh... apa? Kamu tadi mau ngom...mong..."

Sebuah cermin besar tersemat didinding ujung lorong yang menghubungkan ruang tengah dan halaman belakang. Cermin yang terbingkai ukiran jati tua. Nampak berdebu. Kusam dan sudah termakan umur. Namun tidak menghalangi bayangan yang terpantul di cermin itu. Tiga orang berdiri menghadap tepat didepan cermin tua itu.

Lalu...

Lebaran Tetap Akan Datang

Saturday, September 19, 2009 | |

Lebaran, lembaran waktu yang mendadak dapet jackpot semuanya di posisikan ke nol. Aku yakin semua bahagia menyambut kedatangan hari kemenangan itu. Sebulan penuh harus berkubang pada kenikmatan-kenikmatan yang dipaksa ditunda. Sekarang kenikmatan itu dilepas lagi diumbar kesana-sini, menghampiri tuan-tuannya. Lebaran Tetap Saja Masih Lama

Dan apapun yang akan diperoleh di hari kemenangan ini. Nikmatilah dengan suka cita. Tinggalkan persoalan-persoalan dan nikmati lebaran senikmat mungkin.


Lalu...

Pelosok Waktu dan Kelakar-kelakarnya.

Monday, September 14, 2009 | |

Bukan purnama jika tidak segera di karantina dalam hati para pujangga kacangan.

Bukan juga rembulan dan segenap kebinalannya, jika tidak dipaksa bersenggama kata-kata oleh pujangga karbitan

Bukan pula chandra dan seluruh keseksiaanya, jika tidak direngkuh dan ditelan remuk oleh pujangga bala Batarakala.

Karena hanya di benda bulat nang menawan itulah, para pujangga bebas merintihkan luka dan sukanya atas nama berhala cinta.

Dan dipelosok waktu yang berbeda...

Ini adalah nasib si Gadis, diberi kekebalan anti duka lara untuk bisa mencabik dunia

Ini adalah nasib si Gadis, punyai amarah dan gelora untuk bisa menginjak-ijak perbedaan

Ini adalah nasib si Gadis, lebih menawan dengan kepalan tangan, dalam baku hantam melawan penindasan.

Ini adalah nasib si Gadis, rajam batu dan cambuk tak goyahkan jiwa raganya untuk berontak dan menantang nasib satu lawan satu

Dan kemanakah kubus besar yang bernama negeri republikkan. Lari dan bersembunyi diselangkangan pertiwi dengan segepok harga diri yang ditukar oleh nasib para pahlawan devisa negeri.



Dan satu kata dari sang pujangga kelas teri kepada si Gadis. Bukan aku yang menghamilimu!

Lalu...

Ketiga Amarah

Saturday, August 29, 2009 | |

Apa yang dijanjikan oleh seorang teman, pada akhirnya gagal. Si Juragan memilih acara diselenggarakan di hotel. Uang yang diidamkan bisa untuk bekal lebaran, lenyap sudah. Janji ibu kepada ketiga anaknya, moksa dimakan mulut lebar si Juragan Perusahaan Sosial itu.

Si Teman hanya bisa berujar minta maaf. Binar mata menjadi luluhan air mata. Janji yang dibayangkan indah, kini menjadi sampah dan menyesakkan hati. Baunya tak jauh buruknya dari mulut berak si Juragan.

Dikatupkan mulut si Ragil. Dibelainya rambut si Dimas dan di kecupnya kening si Anggi. Dalam pulas tidur mereka, Apri berbenah pakaian kering, dilipat, dirapikan dan ditepikan dimeja kecil. Mencoba untuk berbaring ditempat tidur, Apri mencari sisa tempat yang termakan oleh ketiga tubuh anaknya yang pulas mendengkur lirih. kepala berbantalkan lengan tangan, tubuh berselimutkan kain tipis. Apri mencoba untuk memejamkan matanya. Mencoba untuk melepaskan sesak hati sedari pagi tadi. Melepaskan bayangan lebaran yang menyesakkan.

Janji yang terbatalkan itu tidak segera lepas dari lamunannya. Janji kepada ketiga anaknya. Janji untuk membelikan pakaian baru dan selop dengan warna lucu pilihan anak-anaknya. Lampu 5 watt bertutur kepada nyamuk deritanya sehabis gelap. Dan cicak merangkak menjauh jebakan tikus, lalu bersembunyi dan melahap separuh akhir tubuh nyamuk. Dan Apri, meremas hati dan meluluhkan air mata.

Dan ditempat tidur lain. Berbaring tubuh gempal dengan istri telanjang dipelukkannya. Semalaman mereka bercinta membabibuta. Mulai dari gaya babi sampai dengan anjing kencing mereka lakukan demi satu tujuan lepas dari klimaks durasi 5 menitan. Si istri nampak muram mukanya. Di elap lendir yang salah sasaran. Dibenahi kutangnya dan dipalingkan tubuhnya membelakangi si suami. "Lagi-lagi 5 menitan, itu aja aku belum!" gerutu si istri.

Si Suami melihat ke arah alat kejatanannya yang benar-benar terkulai. Tidak ada kesan kejatanan yang nampak dan bisa dibuktikan ke istrinya selama 3 tahun pernikahan mereka. Berbagai usaha dilakukan oleh si suami. Mulai dari rutin berolah raga sampai dengan pelampiasan amarah di kantor hanya untuk si istri seorang.

Ditempat tidur lain, seorang teman Apri, nampak gelisah. Berkali-kali jari-jarinya menari diatas keypad telpon genggamnya. Muka masam masih mendarahdaging di wajahnya. Amarah dan rasa malu belum juga mereda sedari siang tadi.

Telpon dari si juragan mengubah hari-harinya. Janjinya kepada si Apri untuk memberikan pekerjaan masak, terpaksa harus dibatalkan karena si juragan minta acara diadakan di hotel. Si teman Apri sekali lagi berteriak dalam hati. Sumpahinya si Juragan berkali-kali.

"Lo Gak ada waktu rapat panitia, kenapa lo juga yang bikin keputusan goblok!".
"Katanya Manager, manage kelamin aja gak becus, mau manage orang lain!" "Kalo mau bikin keputusan itu ya lihat kondisi dooonggg!!!"
"Gue sumpahin lo...... Mampus!"

Dan diluar sana, diredupnya lampu kota dan desing bising motor-motor pemuda tanpa masa depan. Berbaring ketiga orang itu dalam dekapan amarahnya masing-masing.

Lalu...

Romantisme Semak Belukar

Thursday, August 27, 2009 | |

Ranti hanya bisa diam terpaku. Dipakainya baju yang dia beli di owelan. Dan dikancingkan lagi celana jeannya yang ketat meliukkan pantatnya yang bohai. Supir Truk itu terkapar di alas tikar. Dengan sengal nafasnya yang menderu dan kemainnya yang terkulai lemas.

Rerumputan seakan diam tak bergoyang. Deru nafas 5 menit yang lalu tak lagi mengganggu raungan jangkrik yang berdendang kelu. Percintaan malam ini berbuah hasil uang segepop 25000, lembaran seribuan.

Gincu dan bedak diwajah Ranti amburadul. Sekitar mulutnya yang berbau lendir dan bercampur merah gincu di usapnya dengan ujung bajunya. Tak ada bekas bentuk lagi. Hanya tinggal sisa nikotin dan bau lendir si supir truk. Disulutnya sebatang rokok kretek merk kampungan. Dibuangnya setetes demi tetes air lendir yang masuk keliang garbanya di celana dalam yang membungkus kemaluannya. Sembari Ranti melangkah gontai di betulkannya posisi tali kutangnya yang berlarian dari pundaknya. Malam belum terlalu larut dan pagi belum juga menunjukkan kedewasaannya. Sekali dua kali mengusap kelamin si pejantan kesepian, cukup untuk makan keesokkan harinya.

Dentum stereo kelas kampung berdegum dikedai minum diujung jalan. Beberapa lelaki nampak asik menenggak air-air oplosan. Dan ada 3 perempuan tanpa malu memuja lelaki-lelaki itu dengan gelayutan payudara yang sengaja diumbar dari balik baju mereka yang seksi. Rantipun menitihkan langkahnya menuju ke kedai itu. Berharap ada lelaki yang terjebak di kerlingan pinggulnya yang dipaksa bertingkah merangsang.

Benar juga tak butuh 1001 dongeng untuk diceritakan, seorang lelaki kekar berjaket kulit hiam, berambut cepak. Menghampiri jebakan Ranti. Disentuhnya pipi Ranti yang sengaja dimerahkan sok malu-malu kucing. Dirabanya payudara Ranti yang sengaja dibusungkan menantang. Dan dibisikkan kekuping Ranti harga tawar paling rendah untuk sekedar melakukan Romantisme Semak Belukar!

Lalu...

Surat Untuk Si BleNug

| |

Siang, pukul entah berapa, belum sempat ku melihat jam dinding. Namun panas di luar rumah bisa aku rasakan didalam kamarku yang kumuh. Paling enggak sekarang matahari sudah merangkak naik ke atas genting rumahku. Telpon genggamku berdering, nama seorang teman tertera di layar hitam putih kecil itu. Hmmm... Pagi jam segini sudah menelpo? Gerangan adakah apa?

Setelah kita saling berkicau. Beradu kata dan meracik tanya jawab. Maka kami simpulkan bahwa ada satu masalah yang perlu untuk disegera dipecahkan, keburu menjadi bisul yang mengeras dan membengkakkan pantat masing-masing. Teman, sebut saja Nug namanya. Mengeluhkan kenapa blog yang sudah dilaunchingnya di pesbuk, tidak bisa diakses lagi. Alias tidak bisa masuk ke area dashboard dan setting. Hmmmm... serumit itukah blogspot.

Dengan rasa penasaran. Maka aku membuat blog plendhus ini dengan menggunakan email yahoo, seperti yang blog yang dibuat oleh teman Nug. Mulai dari proses pembuatan di frontpage blogger.com (create blog) sampai tahap terakhir tidak aku temui kendala apapun dan permasalah apapun. Sampai aku sign out dan sign in pun tidak aku temui masalah apapun. Yang perlu di ingat ketika kita fresh bikin blog, lihat dashboard kita. Akan ada notifikasi verikasi email yang jatuhnya ke email yahoo kita. Memang semenjak blogger.com diakuisisi oleh Google, mau tidak mau email yang biasa kita gunakan di blogger.com baik dengan email yahoo atau email yang lain. Nampaknya oleh embah gugel ini di konvert ke Gmail.com.

Tapi yang lebhi utama adalah check lagi antara username kita dan password. Karena walopun belum terverifikasi tetap saja kita bisa mengakses dashboard.

Lalu...