Menangkap jari jemari Tuhan.. Ini adalah khayalanku sebagai seekor manusia. Terlalu berharap, namun tak henti-hentinya diperbudak mimpi. Entah dimana letak langit. Entah juga dimana letak singgasana-Mu. Yang ku tahu aku inging menangkap jari jemari Tuhan.
Menangkap Jemari Tuhan
Monday, March 1, 2010 | Posted by plendhus | Labels: Belukar, catatan
Dulkemon dan Dia
Monday, October 5, 2009 | Posted by plendhus | Labels: Belukar, blog plendhus, catatan, Romantisme, Semak
Dan bubar. Begitu saja, tidak ada cekcok tidak ada debat terbuka tidak ada embel-embel konsensus. Katabelece tidak berlaku, surat menyurat di tiadakan. Keputusan sudah jatuh di kata final. Bubar tanpa adanya sirene peringatan. Tidak ada waktu untuk mempersiapkan ke-alphaan tidak ada detik untuk menata kesalahan. Benar adanya Dulkemon dan Mie Goreng kisah mereka harus mendarat darurat.
Diselisih tahun yag lalu, ketika Dulkemon menyatakan dirinya adalah benda paling kesepian, disaat itulah datang tanpa diduga Mie Goreng. Dengan baunya yang menawan. Keempukkan mienya yang direbus dengan cinta dan panas yang pas. Juga racikan penyajian yang begitu menawan hati. Membuat Doraemon kelimpungan. Tidak ada pilihan lain, Dulkemon memutuskan untuk mengenal lebih jauh Mie Goreng itu.
Lima Menit
Saturday, September 26, 2009 | Posted by plendhus | Labels: Belukar, catatan, Romantisme, Semak
Cinta adalah media promosi hati, menawarkan kehebatan-kehebatan yang tersimpan jauh di dalamnya. Ketika hati bersama cinta melangit ke pura-pura asmara. Muncul pesimis dan optimis ditawarkan sebagai media penjawab hancur atau kokohnya pura-pura asmara.
Adalah aku ikan sepat yang jatuh dari toples, ke lantai marmer Itali, bernafas dengan sisa beceknya.Adalah kamu air muncrat dari toples ke lantai marmer, yang memilih merembes ke pori-porinya .
“maaf aku mengenalmu melalui senyum yang kamu tawarkan, dan cinta adalah jabatan tangan yang ku tawarkan, jadi bagaimana aku bisa menganggapmu teman, jika masih ada senyum-senyum itu, jangan memberiku dongeng jika memang kamu memilih tidur”.
Cermin
Friday, September 25, 2009 | Posted by plendhus | Labels: Belukar, blog plendhus, catatan, Romantisme, Semak, wawawuwiwowa
Bulan bunuh diri dibalik teralis awan. Malam tak urung terlelap. Kian mempesona bersenggama dengan desir angin barat. Mahkluk penghuni malam tergopoh-gopoh berlari, ketika derap kaki membuyarkan kasak-kusuk mereka tentang gelap dan kedahsyatan-kedahsyatannya.
Rintik hujan tak menghalangi derap langkah, tergesa-gesa menembus semak belukar dan pekatnya malam. Menyibak kebun dan pematang sawah. Menapaki jalan setapak. Dan jembatan kecil penghubung dua kebun ketela. Berpayung daun pisang dan langkah dibimbing oleh cahaya senter kecil.
Derap langkah itu kian dipercepat. Tak kala petir melahap sekejap malam. Menyilaukan awan. Dan suaranya memekik membelah kesunyian.
"Buruan gan..."
Rumah loji tua. Dibeberapa sudut, temboknya seakan rapuh termakan waktu. Jendela-jendela besar bukti kemegahan dimasalalu, hanya tinggal mitos. Bercerita sendiri seiring perjalan malam yang silih berganti.
Dari kejauhan derap kaki itu kian mendekat. Sesekali berdecak kretak suara ranting kering terinjak.
"Sssstttt! Pelan-pelan bodoh!"
Tikus wirok berlari membelah ruang tengah. Ubin abu-abu tak nampak lagi kilaunya setelah ditinggal mati oleh pemiliknya 58 tahun yang lalu. Cermin tua nampak melamun memantulkan bayangan jendela besar. Bebauan malam teselip diantara lubang-lubangnya. Laba-laba bergeleyut disinggasananya. Menggulung rapi nyamuk yang terjerat jaring-jaring.
"Kamu simpan dimana dia?"
"Dikamar belakang gan.."
"Guoblok! Kenapa harus kamar belakang!!"
"Cari aman gan.."
"Bweh!"
Kemudian kedua orang itu melangkah meninggalkan ruang tengah. Menuju kamar belakang. Senter membantu mereka menemukan lorong penghubung ruang tengah dengan halaman belakang. Lorong itu gelap, dari tempat kedua orang itu berdiri, terlihat dikejauhan temmaram malam menerangi halaman belakang. Dapur kemudian kamar belakang.
"Aduh! Kenapa berhenti?"
"Gan kok perasaan saya tidak enak ya gan ya.."
"Kenapa?! Tumben kamu berperasaan, sekalinya berperasaan malah gak enak!"
"Beneran gan saya tidak bohong!"
"Iya tapi gak usah pake pegang-pegang lenganku! Ihhh lepasin gak tanganmu! Buset! Lepasin gak!!!"
"..."
"LEPASIN!!!"
Samar-samar wajah pintu-pintu kamar terkuak oleh cahaya senter. Pintu-pintu itu masih berada ditempatnya. Menutup rapat rahasia-rahasia yang tersimpan di masing-masing kamar. KUsen dan pintu terbuat dari kayu jati. Kokoh, tinggi meranggai langit-langit.
Langit-langit ruangan tak rapat lagi. Lobang disana sini. Gelap tak menyisakan cahaya untuk menembus kepekatannya. Kini semua terpaku diam tak berbisik. Sesekali decat decit engsel tua jendela kamar menderit oleh semilir angin dari halaman belakang. Berbaur lirih dengan suara
Srekkk.. srekkk....
Tiba-tiba Jangkrik terdiam. Raungannya seakan ditelan pengabnya udara ruangan itu. Dengung sayap-sayap nyamukpun seakan melambat. Pelan kemudian hilang dibalik kusen jendela tua. Cericit tikus yang bergedubrak diatas atap, tak dengar lagi. Semua diam. Hanya desir angin dari halaman belakang. Derit jendela kamar tua. Derik gesekan daun dikebon sebelah. Dan suara lirih itu...
srekkk... srekkkk...
"Gan.. beneran perasaan saya gak enak..."
"Kemariin senternya!"
"Gan.. serius gan... ini.. ini..."
"Ini itu ini itu! Mana senternya! Aduh!"
"Aduh! Gan biar saya saja yang pegang..."
"Udah aku aja! Udah deh gak usah kamu umpetin! Sini! Siiniii.."
"Gak gan biar saya yang peg..."
"Sini! Nah hehehehehehe!"
"..."
"Heh? kenapa kamu?"
"Ini.. gak bener gan..."
"Apanya? Duh! Ni senter kenapa lagi! Tadi gak kamu beliin batere baru ya?"
"GANN!!"
"APA!! Duh! kok meredup gini sih!" PLOK! PLOK!
"Gan..."
"Nahhhh... Nyala deh... apa? Kamu tadi mau ngom...mong..."
Sebuah cermin besar tersemat didinding ujung lorong yang menghubungkan ruang tengah dan halaman belakang. Cermin yang terbingkai ukiran jati tua. Nampak berdebu. Kusam dan sudah termakan umur. Namun tidak menghalangi bayangan yang terpantul di cermin itu. Tiga orang berdiri menghadap tepat didepan cermin tua itu.
Berternak Blog
Thursday, September 17, 2009 | Posted by plendhus | Labels: blog plendhus, catatan, wawawuwiwowa
ud25bkrtx9
Nge-blog... hmmm... banyak esensi dari nge-blog yang dijumpai di bumi blogosphere. Ada yang menimang blog sebagai media ekspresi dan apresiasi. Ada yang berternak blog seperti lahan kosong yang bisa di olah untuk mendulang dollar. Namun ada pula memanfaatkan blog sebagai bukan apa-apa, alias biar dikatain pernah ngeblog. Dan tentu saja banyak tujuan atau esensi yang lain.
Blog adalah ekspresi dan diusahakan mampu menciptakan oportunasi untuk bisa memberikan segepok nasi. Di blogku yang The Rooms adalah sebagai kanvas kosong dan tulisan adalah lukisan yang ku torehkan. Memang ada yang beranggapan bahwa The Rooms terlalu mengedepankan kebebasan bahkan terlalu bebas tanpa filter kata, namun bagiku itu bukan lah menjadi soal. Dengan catatan tidak terkait SARA. Atau ngatain orang tepat didepan hidungnya.
Jadi kebebasan adalah bagian dari diriku untuk mengekspresikannya ke dalam blogku. Kalopun ada yang tidak berkenan dengan tulisan-tulisan ku di The Rooms , sekali lagi itu bukan tanggungjawabku wakakkakakak!
So bebaskan diri, jadi bukan ngeblog dengan hati tapi ngeblog dengan ekspresi lalu cari ciri kemudian lets make a money . Komersil! PREK lah!
